Waktu kuliah saya pernah diceritakan oleh salah seorang dosen Prilaku Konsumen di Fakultas tempat saya kuliah tentang pengalamannya menyeleksi slogan-slogan yang akan dipasang oleh Polantas di jalan raya.
Beliau pernah mengoreksi sebuah kalimat yang kurang lebih isinya adalah : ‘Ingat keluarga yang ada di rumah! ‘ menjadi ‘Ingatlah anak-anak yang ada di rumah!’ pada satu kalimat billboard yang rencananya ingin dipasang agar pengguna kendaraan beroda untuk hati-hati di jalan raya. Beliau juga mengatakan bila humas Polantas bingung dengan slogan yang dianggap kurang tepat oleh dosen saya itu. Dosen saya pun menerangkan bila,
“Biasanya kalau sudah berkeluarga dan punya anak, kadar sayang dan ingat anak itu lebih tinggi daripada kepada suami atau istrinya. Jadi kalau ingin menimbulkan ‘rasa hati-hati’ lebih tepat menggunakan kata anak-anak sebagai alasan orang untuk berhati-hati di jalan.”
Dipikir-pikir, benar juga sih… Maksud saya yang benar itu bukan topik kadar sayang istri, suami, dan anak yang dibahas di atas tadi lohhh! Yang benar itu adalah strategi pemilihan tagline, slogan, kalimat positioning yang tepat memang akan lebih merasuk ke otak (kecil, besar, kiri, kanan, atau tengah, entahlah…!). Kenyataan memang sebagai orang tua yang membawa kendaraan akan lebih sadar agar tiba dengan selamat bila diingatkan bahwa dia dinantikan anak-anaknya di rumah, daripada kalimat ‘keluarga yang menanti’. Kalimat ‘ingat keluarga’ lebih umum dan kurang masuk di hati, berbeda jauh dengan kalimat ‘ingat anak!’ Read More…